[ads-post]


GNews: Rusia berhasil memenangkan perang di Suriah berkat kelemahan Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Kawasan Timur Tengah menjadi hancur porak poranda dalam enam tahun terakhir karena tidak pernah ada tindakan serius dari Amerika Serikat (AS) selama masa kepresidenan Obama untuk membantu penyelesaian perang dan konflik berdarah di sana.

Para pemimpin dan rakyat di kawasan Timur Tengah sudah lama apatis terhadap peran dan ketlibatan AS menyelamatkan nasib mereka yang menjadi korban perang.

Namun sekarang semua berubah. Selama beberapa bulan terakhir para pemimpin negara Arab dan Timur Tengah telah mengalihkan kembali pandangan mereka ke AS.  Perubahan sikap ini disebabkan menguatnya kembali peran dan keterlibatan pemerintah AS dalam penyelesaian perang dan konflik di kawasan itu sejak Donald Trump menjadi Presiden AS pada awal Februari 2017 lalu.

Obama Not Action Talk Only
Berbeda dengan karakter Obama yang gemar menabur janji surga tapi tidak pernah bertindak nyata di Timur Tengah, Presiden Trump dalam waktu sangat singkat telah menunjukan keberhasilannya menempatkan AS sebagai pelopor utama menciptakan perdamaian dan mengakhiri perang panjang di kawasan Timur Tengah. Kenyaatan ini menjelaskan mengapa Trump lebih populer dan dipuji rakyat Timur Tengah ketimbang Obama.

Perdana Menteri Libanon Saad Hariri menyampaikan apresiasi rakyat Timur Tengah itu kepada majalah "The Global Politico" pada akhir kunjungan selama seminggu ke Washington, AS (31/07). "Konsekuensi yang tidak menguntungkan karena tidak bertindak",  kata Harari menjelaskan alasan kekecewaan besar rakyat Timur Tengah terhadap Barack Obama, Presiden AS 2008-2016.

Hariri menyimpulkan, selama pemerintahan Obama, AS telah membiarkan Rusia berbuat semena-mena di kawasan Timur Tengah. Di masa kepemimpinan Obama, AS tidak berusaha memcegah kebangkitan rezim otoriter Bashar Assad di Suriah. Obama hingga akhir masa jabatannya juga gagal mendorong terwujudnya kesepakatan damai Israel-Palestina.

Kejelasan sikap Presiden Trump dan pendekatan pemerintah AS yang lebih signifikan adalah alasan mengapa Hariri, para pemimpin Arab, serta rakyat Timur Tengah lebih memilih menyukai Trump ketimbang Obama, yang menurut para pemimpin Arab dicurigai memiliki agenda terselubung menghancurkan dunia Islam atau sengaja melakukan pembiaran terhadap ancaman kehancuran dunia Islam.

Aksi Nyata Trump
Sejak Trump berkuasa, AS telah melakukan pendekatan lebih tegas terhadap pendukung Suriah di Iran.  Hariri berulang kali mengemukakan kegagalan Obama dalam menekan Teheran untuk memaksa terwujudnya kesepakatan pengembangan nuklir Iran dan menghentikan dukungan Iran kepada Suriah.

Selama delapan tahun Obama berkuasa sebagai Presiden AS, ia tak mampu menghentikan perang berdarah yang berlangsung selama lebih enam tahun di Suriah, hingga perang semakin berkobar meluas ke wilayah Lebanon. Perang selama enam tahun lebih itu telah memaksa  1.5 juta rakyat Suriah mengungsi ke Lebanon. Sekitar satu juta rakyat Suriah lainnya terpaksa mengungsi ke seluruh penjuru Eropa. 

Di masa Presiden Obama, Pemerintah AS bahkan membiarkan kelompok teroris ISIS leluasa menyerang, menguasai dan membangun markas di perbatasan Suriah-Lebanon. "Ini adalah sebuah kasus yang harus diketahui dunia. Fakta Obama tidak pernah berbuat apa pun untuk membantu membebaskan dunia Arab dari ancaman dan agresi kelompok Teroris ISIS", tegas Hariri.

PM Lebanon berusia 47 tahun itu menjelaskan bahwa kebijakan Presiden Obama terkait penyelesaian perang dan konflik berdarah di Timur Tengah terjebak dalam retorika inspirasional tanpa tindakan nyata. 

"Kami tahu tindakan mereka (Obama). Kita tahu kebohongan mereka (Obama). Kita tahu apa yang mereka lakukan terhadap rakyat. Kita tahu bagaimana mereka (Obama) bertindak. Dan jika Anda mempercayainya, itu adalah kesalahan Anda bahwa Anda mempercayainya (Obama). Bagi Obama, perang tanpa akhir di Timur Tengah yang menelan ratusan ribu korban jiwa dan jutaan rakyat terpaksa harus mengungsi adalah kepentingan bisnis", ujar Hariri kepada Global Politico di Washington.

AS di bawah kepemimpinan Obama terbukti tidak pernah bersikap tegas dalam menghadapi Rusia, pendukung utama rezim Assad di Suriah. Sebaliknya Trump, dalam beberapa bulan terakhir telah berbicara kepada Rusia untuk memaksa penghentian dukungan militer dan senjata Rusia kepada Suriah. Menurut Hariri, Obama turut bersalah dan harus bertanggung jawab atas kematian dan penderitaan jutaan rakyat Suriah dan Lebanon yang menjadi korban perang. 

Sekarang, menurut Hariri, Presiden Trump tidak punya pilihan selain menghadapi Moskow. "Kekuatan utama hari ini di Suriah adalah Rusia, jadi jika Anda ingin menyelesaikan masalah Suriah, Anda harus berbicara dengan orang-orang Rusia," kata Hariri. "Itu adalah konsekuensi yang tidak menguntungkan karena tidak berakting. Dan sekarang, karena mereka ada di sana, seseorang (Trump) harus berbicara dengan mereka. "

Hariri menyalahkan Obama karena kesenjangan besar antara janji "inspiratif" yang diucapkan Obama dalam pidato tahun 2009 di Kairo. Obama telah menabur berjanji bahwa AS akan melakukan pendekatan baru di wilayah Timur Tengah. Namun, ternyata terbukti "tidak ada sama sekali" upaya Obama untuk mendorong perdamaian antara Israel dan Palestina. 

Hariri putra Perdana Menteri Lebanon Rafiq Hariri, yang tewas terbunuh akibat ledakan bom mobil di Beirut 12 tahun lalu, lebih jauh menjelaskan bahwa meski beberapa pemimpin Arab menentang invasi AS ke Irak pada tahun 2003. Namun, mereka juga sangat menentang penarikan pasukan AS dari Irak tahun 2011 yang terjadi selama masa kepresidenan Obama. Keputusan Obama menarik pasukan AS di tengah-tengah kekosongan kekuasaan di Irak itu menjadi penyebab utama  Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). Tidak jauh dari pernyataan Hilary Clinton sebelumnya, bahwa kehadiran ISIS tidak lepas dari peran besar dan keterlibatan pemerintah AS.

"Ketika perang dimulai di Irak," kata Hariri, "semua sekutu AS di wilayah tersebut meminta AS untuk tidak pergi ke sana. Dan saat AS mengundurkan diri, semua sekutu AS di wilayah tersebut meminta AS untuk tidak menarik diri. Dan semua sekutu AS di wilayah tersebut meminta AS berbuat sesuatu di Suriah, tapi AS tidak melakukannya. Jadi, saya percaya selama kepresidenan Obama, AS telah menyebabkan perang berdarah dan kehancuran di Irak, Suriah, Lebanon dan kawasan Timur Tengah."

Harapan para pemimpin dan rakyat Timur Tengah kini bersandar kepada Presiden Donald Trump yang mereka cinta karena telah bertindak nyata membantu terwujudnya perdamaian di kawasan Timur Tengah. 

(Jy)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.