[ads-post]


GNews -  Kehadiran 3 mantan Presiden pada upacara detik-detik Proklamasi di Istana 17 Agustus 2017 mendapatkan perhatian rakyat yang luas, terutama bertemunya kembali Megawati dengan SBY dalam satu acara resmi. Setelah 2 tahun berturut-turut SBY "absen", pada tahun ketiga sejak dia meninggalkan pemerintahan, tanpa banyak publikasi sebelumnya, SBY buat "surprise" yang tak diduga baik kawan maupun lawan-lawan politiknya. SBY datang dan hadir di Istana dalam peringatan kemerdekaan.

Kita ingat dulu selama 10 tahun SBY menjabat sebagai Presiden tak sekalipun Megawati hadir dalam acara yang sama di Istana Merdeka. Karenanya, 3 hari terakhir ini bertemunya Presiden dan para mantan Presiden masih menjadi pembicaraan publik. Masyarakat ingin tahu lebih luas apa saja yang mereka lakukan dan bicarakan selama lebih dari 2 jam itu.

Mengamati Bahasa Tubuh dari jepretan lensa dan rekaman video bahasa tubuh mereka, termasuk sumber yang enggan disebut namanya, kelihatan bahwa jabat tangan dan pembicaraan antara jokowi dan SBY nampak "hangat". Sebaliknya antara Megawati dan SBY nampak "dingin" dan sepertinya belum cair.

Ketika dikonfirmasi ke lingkaran dalam SBY, mereka mengatakan bahwa secara pribadi sebenarnya tidak ada permusuhan pribadi antara SBY dan Jokowi. SBY bukan rival jokowi, utamanya dalam Pilpres 2014 lalu.

Kita masih ingat di samping SBY memerintahkan para Menterinya untuk mendukung dan membantu Tim Transisi Jokowi, SBY memberikan "brief" tentang banyak hal kepada penggantinya, baik yang berkaitan dengan isu domestik maupun internasional. Jokowi sebagai presiden terpilih diundang ke Istana, dan diberikan karpet merah oleh SBY ketika pertama kali memasuki Istana, sesuatu yang belum pernah terjadi sejak Indonesia merdeka.

Barangkali yang membikin hubungan SBY-Jokowi mulai terganggu adalah di satu sisi pihak SBY merasa terus disalahkan dan dijadikan kambing hitam atas banyak hal. Sementara di sisi lain, kubu jokowi merasa tidak senang karena beberapa kali SBY dalam kapasitasnya sebagai pimpinan Partai Demokrat memberikan kritik dan koreksi.

Menurut orang-orang dekat SBY, sikap SBY dan Demokrat tetap konsisten dukung pemerintahan Jokowi manakala kebijakannya benar, sebaliknya berikan koreksi ketika dianggap salah dan tak sesuai dengan harapan rakyat. Tetapi, SBY keras dan melarang para pendukungnya untuk berusaha menjatuhkan Jokowi di tengah jalan. Alasannya, sekali presiden yang dipilih langsung oleh rakyat dijatuhkan, selamanya politik Indonesia akan tidak stabli dan mudah terguncang.

Kalau "kehangatan" hubungan SBY-Jokowi berlanjut, maka pihak Jokowi lah yang paling beruntung, karena dukungan SBY akan sangat berarti bagi kelanjutan pemerintahannya, bahkan dalam Pilpres 2019 kelak.


Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.