Garang News - Pihak berwenang di Manus Island membenarkan informasi adanya
seorang pencari suaka asal Iran yang meninggal di pusat tahanan imigrasi di
sana. Seorang juru bicara Departemen Imigrasi Australia mengatakan bahwa
pemerintah sudah mengetahui adanya kematian di kamp yang terletak di kota
Lorengau tersebut.
Polisi masih menyelidiki insiden ini dan telah menutup area
dimana mayat pria tersebut ditemukan. Koordinator pengungsi lembaga Amnesty
International Graham Thom mengatakan kematian pria tersebut merupakan 'berita
yang amat menyedihkan."
"Masih belum jelas apakah kematiannya disebabkan oleh
tindakan sendiri atau tindakan kekerasan dari orang lain," katanya.
"Kematian ini merupakan tragedi buruk yang muncul dari terus berlanjutnya
ketegangan dan penderitaan di Manus Island."
"Harus ada penyelidikan independen, tidak memihak,
cepat dan efektif mengenai kematiannya," kata Graham Thom.
Juru bicara urusan imigrasi dari Partai Hijau Senator Nick
Mckim menyatakan Pemerintah Australia tahu pria ini menderita sakit, namun
secara umum mengabaikan permintaan untuk menolong yang bersangkutan.
"Sebagai akibat pengabaian tersebut, kemungkinan saja
jika permintaan dipenuhi, dia masih akan hidup hari ini," kata Senator
McKim.
"Sejumlah pihak menghubungi Pemerintah Australia dan
penyedia jasa medis Australia di Manus Island, meminta agar orang ini dibawa
berobat ke Australia, namun tidak dipenuhi," katanya seraya menambahkan,
"Ini merupakan tragedi yang bisa dihindarkan".
Menteri Imigrasi Peter Dutton telah dihubungi untuk dimintai
tanggapannya.
Ada protes sebelumnya
Kematian ini merupakan yang keenam terjadi di pusat
penahanan milik pemerintah Australia sejak tahun 2014, demikian menurut Australian
Border Deaths Database yang dikumpulkan oleh Monash University di Melbourne.
Hal ini menyusul terjadinya protes selama beberapa hari di
dalam pusat penahanan tersebut, yang menentang pemaksaan agar mereka
meninggalkan kamp.
Natasha Blucher dari Asylum Seeker Resource Centre
mengatakan ketegangan semakin meningkat di pusat tahanan tersebut.
"Apapun yang terjadi mengenai sebab kematian hari ini,
Manus adalah tempat yang tidak aman bagi pengungsi," katanya dalam sebuah
pernyataan.
"Kami prihatin dengan pengungsi, dan mereka yang
mencari suaka yang masih berada di Manus."
Para pencari suaka ini berhadap-hadapan dengan polisi hari
Jumat karena menolak meninggalkan kamp.
Kebanyakan dari 700 pengungsi di pulau tersebut menolak
pindah karena mereka merasa tidak aman hidup di dalam masyarakat di PNG.
Para pengungsi di Manus Island ini sudah didesak untuk
pindah secara permanen ke bagian lain kota itu, karena pusat penahanan ini akan
ditutup.

Posting Komentar