Dua Sisi Putra Dua Presiden
GNews: Pertemuan Agus Yudhoyono dengan Presiden Jokowi di Istana Negara pada hari Kamis kemarin (10/8) meninggalkan banyak kesan menarik di mata publik, khususnya dari pertemuan Gibran Rakabuming putra sulung Presiden Jokowi dengan Agus Yudhoyono yang dilakukan seusai pertemuan tertutup Jokowi-Agus selama 1.5 jam di President Lounge, Istana Negara.
Harian Kompas edisi Jumat 11/8) memuat artikel berjudul "Komunikasi Politik: Gaya Dua Anak Presiden RI", yang menyorot seputar gaya penampilan dari kedua putra pemimpin bangsa.
Harian Kompas mengungkap perbedaan mendasar antara Gibran dan Agus. Kompas menggambarkan sosok Gibran sebagai pribadi yang sangat santai mirip dengan Jokowi. Sebaliknya Agus Yudhoyono dinilai Kompas tampil dengan gaya sangat formal. Kompas menjelaskan latar belakang Gibran selaku pengusaha kuliner dan Agus sebagai seorang perwira militer. Perbedaan latar belakang menjadi faktor utama pembentuk karakter dua anak presiden itu.
Analisa Pakar UGM
Pendapat berbeda datang dari Psikolog Universitas Gajah Mada (UGM) Perdana Ahmad. Pakar psikologi ini menyampaikan analisa dari bahasa tubuh dari masing-masing putra presiden. Analisa pakar Ilmu Kejiwaan dari UGM ini muat di media 'Portal Islam' pada Kamis (10/8) malam.
Berikut ini analisa Perdana Ahmad:
Orang Jawa bilang, untuk menilai seseorang itu kita mesti melihat Bibit, Bebet, dan Bobot.
Berdasarkan kearifan lokal itu, melalui foto itu kita semua pasti bisa menerka, bahwa seorang yang terbiasa dididik dengan kesantunan, pendidikan tinggi, jiwa kepemimpinan akan tercermin dalam sikap tubuh dan busananya sehari hari.
Agus Yudhoyono sangat layak jadi leader sebab pembawaannya tenang, santun dan berwibawa dengan kedua telapak tangan saling genggam mencerminkan jiwa yang mengayomi.
Sedangkan Gibran berkacak pinggang dengan wajah mendongak mencerminkan keangkuhan dan kesombongan tidak menghormati lawan bicara.
Busana Agus Yudhoyono juga formil dan rapi mencerminkan inteligensia tinggi, ketenangan dan ketelitian sedangkan busana Gibran adalah busana harian yang tidak pantas dikenakan pada sesi wawancara formil mencerminkan anti sosial, meremehkan orang lain, sulit serius dalam aktifitasnya dan urakan.
Dua tokoh bagaikan langit dan bumi perbedaan etika dan tata kramanya.
Saya pribadi terbiasa menghadapi tipe ndeso seseorang yang tidak berpendidikan tercermin dari sikap tubuh dan busananya.
Sikap tubuh dan busanamu mencerminkan pribadimu.
Perbedaan pandangan dan penilaian dari dua sumber seperti Harian Kompas dan Perdana Akhmad memberi telah pencerahan kepada publik, termasuk dalam menentukan penilaian publik sendiri.
(Jy)

Posting Komentar